Geliat pembangunan apartemen atau rusun murah bersubsidi semakin gencar di Batam. Walaupun pengembang meyakini segmen marketnya belum ...
Geliat pembangunan apartemen atau rusun murah bersubsidi semakin gencar di Batam. Walaupun pengembang meyakini segmen marketnya belum terbuka luas, namun diperkirakan lima tahun lagi, masyarakat akan memburu hunian vertikal ini.
“Mungkin saat ini masyarakat masih menganggap paradigma hunian ini adalah menetap selamanya makanya masih membeli rumah tapak. Namun lima tahun lagi, masyarakat akan menyadari bahwa hunian itu hanya bersifat sementara,” ungkap Sulistyana, pemilik PT Kinarya Rekayasa, pengembang yang akan membangun apartemen murah, Puri Khayangan di Batam Center, Kamis (22/12) kepada koran Batam Pos.
Pembangunan apartemen ini sendiri direncanakan akan dilakukan pada Januari 2017 nanti. Ia kemudian mengambil contoh di negara maju seperti Jepang atau di kota metropolis seperti Jakarta, masyarakatnya sangat heterogen. Banyak pekerja yang datang dari luar kota dan kembali ke kota asalnya pada sore hari. Namun, ada sebagian dari kaum pekerja tersebut yang lebih memilih untuk menginap di kota tempatnya bekerja karena rutinitas padat. Menyewa atau membeli apartemen atau rusun menjadi pilihan.
“Mereka kaum pekerja profesional dengan mobilitas tinggi yang lebih nyaman menginap di apartemen. Mereka orang-orang sibuk dengan waktu kerja tidak terbatas,” ujarnya.
Menurut sarjana teknik sipil yang pernah mencalonkan diri sebagai Wakil Walikota Batam ini, Batam memiliki lahan terbatas. Developer tak punya pilihan selain membangun hunian vertikal.
“Lagipula masyarakat tak punya pilihan lagi nanti, tanah akan habis. Walau masih tidak setuju, namun zaman mengarah ke sana,”ungkapnya lagi.
Konsep apartemen modern memang menjadi prioritas karena perkembangan zaman. Keterbatasan lahan menjadi penyebab pengembang ataupun pemerintah harus merancang hunia vertikal.
Pemerintah telah merancang strategi untuk menarik minat masyakat agar mau menjatuhkan pilihannya pada apartemen atau rusun. Sulistyana menjelaskan bahwa salah satu strategi tersebut adalah menetapkan bunga dari Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebesar 5 persen. Cicilan pun tergolong murah dengan Rp 1,7 an per bulan dengan jatuh tempo 15 tahun.
“Selain itu pemerintah dan masyarakat bermitra dalam bentuk kerjasama subsidi silang sehingga harga apartemen lebih murah,” ujarnya.
Sulistyana mengakui pengembang apartemen selalu melakukan inovasi untuk membuat penghuninya betah. Memang disadari bahwa aksesibilitas apartemen itu mampu membuat penghuni lelah karena naik turun lift atau tangga. Sehingga dengan tujuan untuk meminimalisir unsur kejenuhan, banyak pengembang apartemen diluar Batam membangun fasilitas umum dan komplek pertokoan yang uniknya diserahkan untuk dikelola untuk para penghuni sendiri.
Untuk saat ini, sebenarnya harga apartemen dan rusun masih tergolong mahal. Hal tersebut dapat dilihat dari ketentuan harga jual unit rumah susun bebas sesuai Keputusan Menteri (Kepmen) PUPR Nomor 425/KPTS/M/2015.
Khusus Kepri, harga jual per meter Rp 10 juta. Sedangkan apartemen atau rusun umumnya memiliki dua tipe yakni tipe 28 dan tipe 36. Sehingga total harga mulai dari Rp 280 juta hingga Rp 360 juta. Ini merupakan salah satu alasan mengapa masyarakat masih memilih rumah tapak dibanding apartemen karena harga yang relatif tak jauh berbeda.
Paradigma berpikir masyarakat Batam masih menganggap bahwa dengan keberadaan lahan tambahan yang biasanya ada di rumah tapak maka dapat berkreasi lebih dibanding dengan apartemen yang bersifat tetap.
“Namun saya meyakini kelak masyarakat tak punya pilihan lagi. Dan optimis apartemen akan diburu. Dan jika pemerintah mau bekerjasama, maka kami siap membangun asal disediakan lahannya,” ujarnya.
Selain di Batamcentre, Batam Pos juga mendapat informasi pembangunan apartemen murah lainnya ada di wilayah Pelita, Nagoya.
Sedangkan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Batam, Djaja Roeslim pernah mengatakan bahwa pengembang masih menimbang-nimbang untuk membangun apartemen atau rusun murah karena harganya yang masih tergolong tinggi.
“Harga rumah tapak dan apartemen tak jauh berbeda. Sehingga orang pasti lebih memilih untuk membeli rumah tapak dibanding apartemen,” ujarnya.
Hal ini bisa dipahami karena pengembang pasti memikirkan untung rugi ketika membangun sebuah proyek. Namun senada dengan Sulistyana, ia mengaku siap membantu membangun jika diminta pemerintah.
Lalu bagaimana dengan penguasa lahan, Badan Pengusahaan (BP) Batam. Kepala Kantor Pengelolaan Lahan BP Batam, Imam Bachroni mengungkapkan bantuan swasta sangat diharapkan dalam membangun rusun atau apartemen murah.
“Rusun itu kalau bisa yang bangun swasta. Kami yang merencanakan. Perlu juga diperhatikan berapa daya beli masyakat,” ungkapnya


COMMENTS